Meine Schatz, Uncategorised

Dummer schrecklicher Engel

Kau sungguh terlalu. dan kuyakin kau sependapat denganku.

disaat binar mata yang selalu bercerita indah, entah berapa lama panjang dan lebarnya terserah kau saja, menatapku-namun berangan pada negri fantasi yang entah dimana.
tunggu,
lancangkah jempolku menyebutnya masa lalu, karena kamu masih saja berdiri disana. di dunia yang sesekali kau jejak dan kau tinggal pergi kemana engkau suka.

tunggu lagi,
apakah aku baru saja membicarakan kenyataan ?

atau aku hanya mengada-ada. dan menyemai biji pertengkaran ?

tentang jantung jam, suara penyanyi sopran, dan percakapan tentang gerak lengan itu..

aku tau siapa yang coba kau ceritakan kepadaku..
tentang penulis itu, malaikat dan kupu-kupu, apa sekarang kau mulai berfikir sejak kapan aku bangun dari kebodohanku ?

tidak sayang, aku belum terbangun dan aku masih bodoh.
buktinya aku masih tetap percaya dengan jutaan imaji yang berusaha engkau cipta.

dengan segelas susu kejuku dan kopi hitammu yang bersanding mesra, aku selalu duduk tenang dan menyimakmu dengan manja.

aku bodoh. iya, sangat terlihat begitu, apa kau masih setuju denganku ?

bahkan aku sedang merencanakan protes kepada Tuhan. tentang bagaimana Ia tidak melengkapi kemampuan lidahku berkata :

“tidak atau tapi”

tentang bagaimana Ia sesuka hati menempatkanku dalam situasi seperti ini.
lalu aku mendorong kepalaku kebelakang. ku pejam mata dan bernafas lepas dalam-dalam.

T O L O L !!!
“ini Tuhan, bukan ? kau fikir kau siapa ingin seenak jidatmu memprotes Dia??”

o my God..no !!
ternyata aku benar-benar bodoh.
dan level kebodohanku sudah lebih tinggi dari tingkat dewa-dewi.

shoots. shut up your mouth!!, katamu

shut me up !!, kataku

lalu bibir-bibir kita bertemu.

kau memang handal sekali..

u know how to stop me elegantly.
kamu dengan kamu.

dan aku dengan aku yang asik menjilati balok es batu yang aku genggam entah dari kapan tau ini agar lekas mencair.

kamu tau aku tidak suka ice bukan ?

apa aku sekarang nampak lucu dengan es batu ini di bibirku ?

tanganku dingin, ngilu.

bibirku memerah panas dan kebas.

aku tidak tau siapa yang melakukan perbuatan tidak senonoh ini.

iya es batu yang tak tau adat ini.

atau siapa yang menaruhnya di genggamanku, atau mengapa aku masih menggengam dan asik menjilatinya walau aku bisa saja membuangnya jauh-jauh.

bulan meninggi es batu itu sudah berakhir.

menyisakan keriput membiru di jari-jari.

aacchhhh

kamu sedikit terperanjat ketika kudaratkan tanganku yang dingin dipipimu, tapi aku tau matamu berbicara lebih.

“is that cold..?”, tanyaku

kau menggeleng, dan menekan tanganku ke pipimu lebih erat lagi.

sementara jempolku tengah asik saja mengetik, jutaan imaji tentangmu terus menggelitik.
I miss your chest 😥
katamu, baru saja.
andai kau dan aku hanya berjarak 5 centi, sudah habis ceritaku untuk malam ini.
aku akan meringsut mendekapmu.
menancapkan hidungku di rambutmu..

lalu mendengar sengau nafasmu yang kadang tidak beraturan itu.

tapi kau tak mendengarkan aku..
maka jempol dan mataku masih menggelepar liar di halaman ini.

…mmmm…
mungkin kamu sudah terkapar..

ditampar letih, ditendangi debu sisa perjalananmu sore tadi.

atau kau sedang asik dengan jutaan imaji, yang diam-diam memperkosa otakmu tanpa henti.

ohya.. aku jadi ingin menjawab pertanyaan tentang siapa aku.
memangnya aku siapa ?
aku…”malaikat“, jawabku mantap. setidaknya, begitulah mereka menamaiku.

kadang aku berfikir tentang siluet malaikat itu ketika aku bercermin..
apakah malaikat se-awful ini ?, batinku lirih.

Sebuah pesan Telegram datang..

dan ternyata kau masih terbangun..
sebuah lagu Let Him Go dari suaramu yang menjadi candu baru dalam hidupku mengalun..

aku masih saja asik tenggelam dalam kebodohanku bersamamu..

dalam megah rasa percayaku padamu yang kujunjung tinggi-tinggi.

biar saja mereka tertawa.

bukankan mereka juga tidak perduli kita siapa ?

dan kini engkau tidur bersamaku (lagi).

aku mulai kuatir dengan tulisan ini..

bagaimana jika nanti kau menemukannya..

membaca dan kita akan mempertengkarkannya..

aku tidak peduli.

bukankah kita tidak sedang merkompromi dengan masa lalu.

aku juga tidak sedang berusaha menggagahi masa depan.

aku dan kamu sekarang sedang bersama..

cukup menjadi bahan untuk kita bercerita.

itu saja.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s